Selasa, 22 Juli 2008

Cerita Hidup di Negeri SAKURA


Oleh : Sukamto, Alumnus Fak. Pertanian SKS 1985

Pernah ada yang bilang masa indah adalah saat SMA/SMU, setelah ribut-ribut soal UN yang menjadi pro kontra yang sangat melelahkan, ada yang bilang masa yang terindah saat SMP. Namun bukan cerita masa indah atau tidak, tapi yang pasti sering kita kadang merasa indah, atau rindu akan masa-masa yang telah lalu; setelah kita melewatinya. Sambil merasakan masa yang lalu, sedikit cerita dari antara Grendeng-Bogor-Jepang.
Kata orang tak kenal maka tak sayang. Nama saya singkat saja Sukamto, lahir di kampoeng nun jauh di pegunungan kecamatan Salem, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah. Lahir dari seorang Bapak Wiharna Cakradikrama dan Ibu Siti Nurchasanah. Setelah menamatkan di SMA Negeri 1 Brebes tahun 1985, lalu kuliah di jurusan Hama Penyakit Tumbuhan, Fakultas Pertanian UNSOED. Kuliah di Purwokerto, Grendeng hingga pindah ke Karangwangkal tentu saja telah membawa 1001 kenangan bahkan lebih kali. Lulus tahun 1990, dan terus bekerja di Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat sebagai peneliti, tepatnya di Jl. Tentara Pelajar No. 3 Bogor.
Menuju Tohoku UniversityPada awal kerja di Balittro, diinstansi ini sedang ada kerjasama penelitian dengan JICA. Awal tahun 1997 atas sponsor JICA, penulis mendapat kesempatan untuk training ke Jepang tepatnya Universitas Tohoku.
Beberapa hari sebelum pulang ketanah air, pembimbing yaitu Prof. Yosio EHARA memberikan acceptance letter yang kemudian di gunakan untuk mendaftar program MOMBUSHOU/MOMBUKAGAKUSHOU. Satu April 1999, penulis berangkat ke Jepang untuk melanjutkan sekolah di universitas Tohoku, tempat yang sama saat training tahun 1997.
Universitas Tohoku adalah satu di antara 7 universitas imperial lain di Jepang (Tokyo, Kyoto, Tohoku, Hokkaido, Nagoya, Osaka, Kyushu) dan termasuk segelintir universitas di Jepang yang sudah mencapai lebih dari 90 tahun umurnya sejak didirikan (1907).
Secara historis, Sendai atau kota yang berjuluk Mori no miyako (kota atau tempat nan hijau) adalah kota di mana sekitar 400 tahun lalu lebih, tepatnya pada 1601 M., Date Masamune mendirikan istananya. Pada tahun 1889 M., Sendai resmi menjadi kota setingkat kotamadia dan berangsur-angsur menjadi lokasi menarik bagi hampir semua kegiatan, dari jasa, pendidikan sampai militer.
Setelah PD II, sejalan dengan restorasi kota Sendai akibat kerusakan saat perang (yang sebagian besar wilayah kotanya hancur akibat perang) dan seiring dengan pemulihan ekonomi Jepang pada umumnya, Sendai pun berubah menjadi pusat pemerintahan dan bisnis khususnya untuk wilayah layanan Tohoku. Dan sejak tahun 1989 Sendai ditetapkan sebagai kota ke 11 bagi perencanaan khusus kota-kota kunci di Jepang. Meski pun begitu sampai saat ini Sendai masih menduduki kota peringkat 12 berdasar jumlah penduduk atau populasinya.
Ditinjau dari segi lokasi dan topografi, Sendai sebenarnya mempunyai keistimewaan di banding dengan kota-kota lain di daerah Tohoku. Pada musim panas, Sendai tak sepanas kota-kota tetangganya, begitu pula di musim dingin, Sendai pun tak sedingin daerah-daerah sekitarnya.
Belajar bahasa Jepang dan research studentSebagai penerima beasiswa monbusho G to G, 6 bulan pertama kami harus mengikuti program Bahasa Jepang intensif (full time) di bawah pengawasan International Student Center di Tohoku Univ.
Konon kabarnya kata rekan-rekan, pada setengah tahun pertama inilah tersedia waktu / kesempatan untuk menikmati kehidupan di Jepang; karena setelah masuk lab/program S2 atau S3 akan banyak dijejali tugas-tugas baik penelitian, kuliah, seminar dll.
Kebetulan penulis juga masih Bulog alias bujang lokal, karena itulah bila hari libur/Sabtu atau Minggu bersama rekan-rekan program bahasa; dari Nepal, Iran, Bulgaria, Meksiko, Jerman, Mongol, dan Rusia, sering menghabiskan waktu dengan jalan bareng-bareng untuk menikmati tempat-tempat di sekitar Tohoku atau sekedar bercerita-cerita tentang negara-negara masing-masing, dll. Memasuki 6 bulan berikutnya sebagai research student, mulai rutin masuk lab.: menyiapkan thema penelitian, persiapan ujian masuk program, penelitian pendahuluan dll.

Menikmati Kehidupan di Laboratorium.Memasuki tahun kedua dan seterusnya sebagai student, penulis mulai menikmati kehidupan dilab.; datang pagi pulang sore, malam atau bisa malam sekali atau juga bisa pagi. Dalam satu lab. terdiri dari mahasiswa S1 tahun terakhir, Master (M1 dan M2) dan S3.
Biasanya setiap student mendapatkan fasilitas meja belajar komplete dengan internet, dan meja kerja untuk penelitian serta fasilitas laboratory lain. Sehingga student tidak perlu kemana-mana untuk cari bahan paper, seminar atau ujian.Paling jauh mesti ke gedung lain, library yang bisa dibuka hampir 24 jam. Dengan adanya fasilitas tsb, maka student idealnya tinggal di univ. atau meja masing-masing untuk belajar dan melakukan seluruh aktivitas studynya. Pulang ke rumah hanya untuk tidur. Lain lainnya dihabiskan di univ.
Seperti suatu komunitas/ kelompok lain di Jepang, kehidupan dilab. punya aturan yang tidak tertulis dan selalu berjalan setiap tahunnya. Aturan tersebut biasanya disampaikan saat orientasi pertama masuk lab.Kegiatan yang berhubungan dengan study seperti jadwal seminar mingguan lab., meja tempat duduk atau tempat kerja ditentukan oleh assisten professor. Sedangkan yang berhubungan dengan kegiatan lain seperti kordinator berkebun, membersihkan ruangan, steril alat, nomikai/minum-minum/party dll., dirembug/ditentukan diantara student.
Namun setiap tahun selalu saja aturan/jadwal hampir sama, misal koordinator berkebun biasanya student master (S2) tahun pertama, dan nomikai (menyediakan makan dan minum kalau ada party) selalu saja anak S1. Berkebun di lab. hanyalah kegiatan tambahan yang biasanya dikerjakan bersama setelah pukul 15.00 pada setiap musim panas dengan memanfaatkan lahan di sekitar kampus/rumah kaca. Tanaman yang di tanaman bermacam-macam seperti padi, jagung, timun, kentang, bawang sayur dll.
Oh yach .. sejak penulis ada, tanaman yang ditanam bertambah yaitu cabai. Lumayan kebetulan nihonjin (orang jepang) gak suka pedas, dan cabai bisa disimpan dalam freezer; lumayan untuk setahun buat sambal ….. Hasil panen yang lain hanya untuk dikonsumsi sendiri atau sekedar di bagi ke lab. lain atau bagian lainnya (administrasi) di fakultas. Berkebun bersama semua anggota lab. lumayan menyenangkan; sambil refresing menghilangkan kejenuhan berjiken (research) dilab.

Cerita party/minum dan makan….wah pasti lebih banyak, laa piye orang jepang kan sukanya memang minum dan makan. Setiap ganti musim, tahun ajaran baru atau event apapun selalu saja disertai dengan acara makan dan minum bersama.
Setiap party tak cukup sekali /disatu tempat selalu saja ada lanjutannya pindah ke tempat/restoran lain. Penulis sebisa mungkin membatasi acara party khususnya yang di luar kampus; gak bisa menikmati selain boros juga tentu saja rugi hanya bayarin nihonjin……. ? Laa … gimana; yang lain pada minum bir, sake, wine dll… yang harganya lebih mahal dari pada orange juice, apple juice, teh atau coca cola, yang biasa penulis pesan/minum. Namun untuk menjaga keakraban/kekompakan di lab., penulis secara selektif ikut juga pada acara-acara party walau di luar kampus.

Gambar Bekerja keras, lalu maka dan minum sambil ngobrol; begitulah kebiasaan orang Jepang.
Kegiatan lainnya di lab. tentu masih ada lagi seperti olah raga, imonikai, bowling, main sky bareng dll. Cerita main sky tentu pengalaman yang paling mengesankan karena memang baru kali itu main perosot-perosotan di atas salju yang memadat.
Setengah hari dihari pertama main sky …. wah banyak jatuhnya daripada berdirinya… ?. Begitu seriusnya temen-temen se-lab. melatih… malu juga kalau gak berlatih bersungguh sungguh. Dan…baru hari kedua, bisa berjalan dan berbelok dalam kecepatan yang rendah.
Begitulah kurang lebih kegiatan student setiap tahunnya selain tugas utama research dan belajar.
Seken: hidup berkelompok ala JepangResearch dan semua kehidupan di lab. dilakukan secara bersama-sama saling bantu membantu yang secara sadar atau tidak ternyata telah menimbulkan kesetiaan/kuatnya keterikatan pada kelompoknya.
Pada akhirnya walau suatu kegiatan dirasakan kurang berkenan secara individu bagi seseorang misal terasa mahal dll, namun tetap saja untuk menjaga kekompakan komunitas/ kelompok tersebut akhirnya ikut juga.
Kesetiaan kelompok tidak terbatas di sebuah laboratorium atau kantor saja. Bisa saja dalam kelompok klub olahraga, klub kesenian, kelompok ketetanggaan, kelompok kelas di sekolah dll.
Orang yang masuk dalam sebuah kelompok, atau memang tergabung dalam sebuah kelompok seperti kelompok ketetanggaan, merasa adalah kewajibannya untuk bertindak seirama dengan kemauan kelompok dan tidak bertindak menonjolkan diri atau lain sendiri karena hal itu akan mengundang rasa kurang senang kelompoknya.
Prestasi seorang individu dalam kelompok bukan lagi prestasi pribadi yang bersangkutan tapi menjadi prestasi kelompoknya. Masyarakat Jepang kurang dapat menerima sifat individualisme, apalagi yang mencolok seperti dalam masyarakat Barat. Masyarakat Jepang selalu menjaga keharmonisan dengan kelompok, lingkungan, dan alam.
Dalam suatu kuliah umum Prof. Kimura Toshiaki (Faculty of Arts andLetters, Universitas Tohoku) yang beristrikan orang Indonesia, bercerita tentang Seken/Syakai yang diartikan sebuah kelompok/masyarakat (Society). Walau Seken dan Syakai (Society) dua-duanya diartikan masyarakat/kelompok, tetapi philosophy yang mendasarkannya sangat berbeda. Di dalam philosophy Eropa “society (Syakai) itu di ciptakan oleh individu yg mandiri supaya lebih aman dan makmur kehidupannya.
Tetapi, konsep orang Jepang mengenai masyarakat, “Seken” berbeda dengan konsep Eropa ini. Karena kadang-kadang orang Jepang lebih mengutamakan manfaat masyarakat daripada manfaat diri sendiri. Kesannya masyarakat itu tuan kepada pribadi.
“Seken” punya beberapa hukum yang tidak tertulis dan anggotanya harus ikut peraturan itu. Di dalam itu yang paling penting ada dua prinsip; perbedaan tua-muda dan sistim reciprocity (sistem tolong menolong, atau bagi rata). Mengenai Perbedaan tua-muda, mungkin rekan yang pernah mengalami di Jepang apalagi di Kenkyushitsu/lab.
Orang Jepang harus sopan sama orang yang umurnya lebih atas dari dia. Walaupun bedanya sedikit harus panggil “Senpai” atau sekurang-kurangnya harus pakai “san”, dan bahasa juga biasanya kata-kata bentuk sopan (keigo).
Sebaliknya, seorang senpai (senior) biasanya akan terlihat lebih menyayomi, momong dan selalu melindungi kohai-nya (junior) dalam satu kelompok. Biasanya orang Jepang mulai belajar prinsip ini waktu SMP bukan dari Guru, tetapi dari murid tingkat atas.
Sistem “bagi rata” juga masih sering bisa lihat didalam masyarakat Jepang. Anggota groupnya harus saling bantu dan tidak boleh berhasil sendiri. Misalnya salah satu anggota tiba-tiba perlu bantuan mengenai uang atau tenaga kerja, yang lain harus bantu dia. Atau sebaliknya, ketika salah satu anggota tiba-tiba dapat rejeki, maka harus dibagi sama anggota lain.
Menarik untuk dikaji, barangkali saja dasar pikiran dan sifat bangsa Jepang ada dalam philosophy “Seken“ juga yang menjadi landasan dalam hidup bernegara yang terlihat lebih baik dari RI ini.
Kawan main tennis lapang penulis (Pak Ade) yang tempo doeloe pernah tinggal di jepang, berkelakar; di Jepang sulit cari orang miskin tapi sulit juga cari orang kaya, sebaliknya di negeri tercinta, Indonesia, banyak orang kaya tapi banyak pula yang miskin. Atau makin bertambah yach setelah kenaikan BBM….?
On ScheduleBila kita masuk lab. atau ganti tahun ajaran baru biasanya bulan April, setiap student sudah disodorin jadwal seminar, presentase kemajuan penelitian, etc. setahun penuh. Semua dijalani dengan konsekwen dan disiplin.
So, kalau melihat secara sekilas, menikmati lab. baik itu yang berhubungan dengan study atau kegiatan lainnya, seperti gak ada yg berubah dari kehidupan orang jepang dari waktu ke waktu. Semua sudah on schedule, ya kalau gak gitu susah juga… bayangkan kalau misal ada seminar atau rapat mendadak…wah bisa jadi menggangu penelitian karena setiap student biasanya memang sudah menjadwalkan rapi-rapi dari setiap jam ke jam.
Keteraturan menyangkut juga masalah kehidupan sosial budaya japanese.
Suzuki-san, karyawan di lab. setiap istirahat siang dia ganti pakaian dengan sport suite, lalu main badminton biasanya dilakukan setiap jam istirahat. Dan bila jam istirahat selesai, dengan segera ia akan berganti formal suite lagi, bertugas seperti biasa.
Hal yang sama juga di terlihat luar kampus, jadwal festival atau matsuri bisa diketahui 1-2 tahun ke depan. Kalau mau ikutan, mesti daftar jauh hari sebelumnya. Kalau gak, ya pasti ditolak…..mereka gak mau ada hal yg tiba-tiba, bikin panik dan mengacaukan jadwal.
Cerita transportasi apalagi pasti dech on schedule, kadang penulis pikir mereka termasuk bangsa robot, malah ada yang bilang japanese kaku gak inovatif; semua monoton dan teratur. Tapi dipikir lagi, mereka dengan cara seperti itu adalah bangsa yg teratur.
Lihat saja hasilnya, semua berjalan dengan baik dan tidak asal-asalan. Dan mereka secara individu juga tidak pernah berani melanggar aturan yg ada. So, kehidupan mereka meski monoton tapi tertib dan baik.
Dirantau Bersama Alumni GrendengCerita alumni UNSOED mungkin gak segemerlap alumni UI, ITB, UGM atau yang lain. Namun tentu bukan tak mungkin akan menjadi sejajar dengan alumni lainnya, hanya belum terhimpun dengan baik semua potensi yang ada dialumni UNSOED. Artinya kita semua perlu berbenah, barangkali.
Terus terang saja, saya belum banyak ikut serta dalam berbagai kegiatan alumni Unsoed baik yang diadakan pusat di Purwokerto atau cabangnya di daerah-daerah (Jakarta, Semarang, batam, lampung dll). Barangkali hanya sekali ikut berkumpul ria saat awal 90-an yaitu alumni cabang Jakarta yang diadakan di kebun binatang ragunan, selebihnya jadi pendengar.
Tahun 1999, awal hidup di Jepang bertemu dengan salah satu dosen Peternakan Undip (Dr. Bambang Sulistyo), ngomong ngalor ngidul akhirnya dikenalkan lewat e-mail dengan Mas Okky yang saat itu sedang pendidikan S3 di Jepang. Mungkin saja memang sama-sama kangen sama alumninya….beberapa jam Mas Okky kirim e-mail dan terus bergabung dalam satu mailing list alumni.
Kenal-kenalan barang itu…..awal berkomunitas alumni dalam mailing list yang di asuh Mas Okky. Yang pasti paling banyak posting sich Mas Abe…yang saat itu sedang merumput rumput laut di Jerman. Tak lama setelah itu….sebenar juga telah ada mailing list alumni yang di asuh Kang Lukman, dan atas kebesaran hati Mas Okky akhirnya mailing list digabung.
Banyak cerita setelah lebih dari 7 tahun berkomunitas dimailing list unsoed….dari yang senior junior, pokoknya banyak belajar dech.
Buat Web Alumni……sempat juga tercetus dari sana dan terlaksana….terus mandeg dan akhirnya adalagi. Sampai saat ini saya rajin juga nongkrong dan kadang posting dimailing list…mohon maaf yach kalau saja kurang berkenan atau mengganggu dll.
Bersama Masyarakat Indonesia di SendaiMasyarakat Indonesia di Sendai cukup banyak juga, ± 70 orang pada tahun 2004 yang terdiri dari para pelajar, rekan-rekan yang kerja diperusahaan, dan yang bersuamikan atau beristrikan orang jepang.
Kegiatan lebih banyak ke sosial; bersilaturahmi, rekreasi, makan-makan, mengikuti/ mengadakan festival atau memperkenalkan budaya Indonesia baik di masyarakat umum atau sekolah-sekolah. Kegiatan-kegiatan masyarakat Indonesia di Sendai tertampung didua organisasi; Persatuan Pelajar Indonesia Sendai (PPIS) dan Keluarga Muslim Indonesia Sendai (KMIS).
Bencana Tsunami yang meluluh lantahan serambi mekah (Aceh) saat itu menjadi berita utama dan perhatian khusus orang-orang jepang. Apalagi gempa bumi merupakan peristiwa yang sering terjadi di Jepang. Perhatian dan bantuan dana orang-orang jepang telah menjadi pemicu semangat masyarakat Indonesia di Sendai dalam menggadakan penggalangan dana di tengah derasnya salju. Berbagai organisasi sosial, universitas, sekolah-sekolah di jepang banyak yang membantu dalam kegiatan penggalangan dana.

Menggalang dana untuk korban bencana Tsunami
Cerita kegiatan KMIS akan terasa lebih semarak saat bulan Ramadhan. Dihari-hari biasa bulan Rahamadhan di Jepang tentu saja tak seramai di tanah air, dimana semua chanel TV banyak yang menyiarkan acara tentang Ramadhan, kalau sorepun banyak yang ngabuburit, jalan-jalan sambil nunggu bedug magrib.
Namun puasa di Jepang menyenangkan juga, karena puasa kebetulan jatuh saat musim dingin dimana panjang siangnya lebih pendek daripada malam….jadi cepet bukanya…..?.
Dihari-hari libur suasana Ramadhan di Sendaipun sangat terasa, setiap hari Sabtu ada buka bersama masyarakat Indonesia. Lalu hari minggu dan libur lainnya, ada buka bersama muslim seluruh negara yang ada di Sendai.
Dan jenis makanan yang di sajikanpun akan bergantian dari setiap negara. Selain Ramadhan, yang ditunggu-tunggu juga adalah Lebaran tentunya. Sayang sekali, lebaran yang jatuh pada saat hari libur hanya satu kali selama enam kali berlebaran di sana, dulu itu waktu tahun 2001 saja. Selebihnya, setelah shalat Ied langsung ngelab (pergi ke lab.).
Demikian sedikit cuplikan-cuplikan cerita yang dapat penulis sampaikan, mudah-mudahan lain kali dapat bersambung, dan kurang lebihnya mohon maaf. Terima kasih buat istri Rr. Nurul Irfani Annette, anakku Khairunisa Nur Aikoningtyas, keluarga dan rekan-rekan yang telah banyak membantu dan do`a untuk penulis dalam menimba ilmu di Jepang; kore kara-mo yoroshiku. (Sukamto, SKS 1985 UNSOED, sukamtowrn@yahoo.com). Dimuat dalam http://blog.alumni-unsoed.net/

Jumat, 18 Juli 2008

SEBATANG BAMBU


Setelah membaca Otobiografi temenku dulu..eh..sekarang juga masih..namanya Muhammad Abduh..Otobiografi yang begitu panjang aku teringat pada sebuah tulisan yang pernah kubaca…..kalau gak salah Sebatang Bambu karya heimi..
Sebatang bambu yang tinggi dan indah tumbuh di halaman rumah petani. Batang bambu ini menjulang di antara batang-batang bambu lainnya. Suatu ketika datanglah sang petani yang punya pohon bambu itu.Dia berkata kepada batang bambu,” Wahai bambu, maukah engkau kupakai untuk menjadi pipa saluran air yg sangat berguna untuk mengairi sawahku dan hasil panennya bisa berguna bagi semua orang?”Batang bambu menjawabnya, “Oh tentu aku mau bila dapat berguna bagi engkau dan semua orang, Tuan. Tapi ceritakan apa yang akan kau lakukan untuk membuatku menjadi pipa saluran air itu.”
Sang petani menjawab, “Pertama, aku akan menebangmu , lalu aku akan membuang cabang-cabangmu yang dapat melukai orang yang memegangmu. Setelah itu aku akan membelah-belah engkau sesuai dengan keperluanku. Terakhir aku akan membuang sekat-sekat yang ada di dalam batangmu, supaya air dapat mengalir dengan lancar. Apabila aku sudah selesai dengan pekerjaanku, engkau akan menjadi pipa yang akan mengalirkan air untukmengairi sawah sehingga padi yang ditanam dapat tumbuh subur dan hasil panennya dapat berguna bagi semua orang serta tidak ada kelaparan di desa ini.” Mendengar hal ini, batang bambu lama terdiam…....kemudian dia berkata kpd petani, “Tuan, tentu aku akan merasa sangat sakit ketika engkau menebangku. Juga pasti akan sakit ketika engkau membuang cabang-cabangku, bahkan lebih sakitlagi ketika engkau membelah-belah batangku yang indah ini dan pasti tak tertahankan ketika engkau mengorek-ngorek bagian dalam tubuhku untuk membuang sekat-sekat penghalang itu. Apakah aku akan kuat melalui semua proses itu, Tuan?” Petani menjawab, ”engkau pasti kuat melalui semua ini karena aku memilihmu justru karena engkau yang paling kuat dari semua batang bambu pada rumpun ini. Jadi tenanglah.”Akhirnya batang bambu itu menyerah. Setelah petani selesai dengan pekerjaannya, batang bambu indah yang dulu hanya menjadi penghias halaman rumah petani, kini telah berubah menjadi pipa saluran air yang mengairi sawah sehingga padi dapat tumbuh dengan subur, berbuah banyak dan tidak ada kelaparan di dea tersebut.Sobat , pernahkah kita berpikir bahwa dengan tanggung jawab dan persoalan yg sangat berat, mungkin Tuhan sedang memproses kita untuk menjadi indah di hadapan-Nya? Sama seperti batang bambu itu, kita sedang ditempa. Tapi jangan kuatir, kita pasti kuat karena Tuhan tak akan memberikan beban yang tak mampu kita pikul. Jadi maukah kita berserah pada kehendak Tuhan, membiarkan Dia bebas berkarya di dalam diri kita untuk menjadikan kita alat yang berguna bagi-Nya? Saya teringat akan sebuah Firman suci-Nya dalam Al_Qur'an; Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdoa):"Ya Rabb kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami bersalah. Ya Rabb kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang yang sebelum kami. Ya Rabb kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri maaflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir". (QS.2:286)
Akhir kata Congratulation my friend, you be strongly bamboo now.
Ditulis oleh Maryono
Anak Jogja yang satu tahun di Faperta Unsoed, angkatan 1992, lalu ke UGM
KIni sukses menjadi PNS dan sudah S2
silakan kunjungi blognya http://fitrotunmaryono.multiply.com

Senin, 14 Juli 2008

PROFIL FAKULTAS PERTANIAN UNSOED

Fakultas Pertanian Universitas Jenderal Soedirman (UNSOED) merupakan salah satu lembaga pendidikan tinggi negeri yang terletak di Purwokerto, Propinsi Jawa Tengah. Lembaga pendidikan tinggi di ibukota Kabupaten Banyumas merupakan fakultas tertua dan terbanyak memiliki program studi. Pada saat ini terdapat 4 jurusan dengan 8 program studi S1, 3 program D3, 2 program alih jenjang dan 1 program S2. Sesuai dengan SK Mendiknas No. 045/U/2002 maka Fakultas Pertanian UNSOED menerapkan kurikulum berbasis kompetensi. Penerapan kurikulum tersebut menuntut ketersediaan sumberdaya manusia, sarana dan prasarana dan berbagai fasilitas penunjang yang memadai, baik secara kuantitatif maupun kualitatif. Berdasarkan kurikulum yang berlaku, diharapkan mahasiswa dapat menyelesaikan studinya dalam waktu 4 tahun untuk program S1, 3 tahununtuk program D3, 2 tahun untuk program alih jenjang dan program S2.

Jumlah Staf Pengajar 149 orang dan 3 orang diantaranya telah mencapai jabatan akademik Guru Besar. Staf Pengajar yang berpendidikan S3 sebanyak 15 orang (10,1%), S2 sebanyak 104 orang (69,8%) dan S1 sebanyak 30 orang (20,1%). Pada saat ini terdapat 12 orang staf pengajar sedang mengikuti program Pasca Sarjana, yaitu 5 orang S3 dan 5 orang S2. Pada saat ini jumlah mahasiswa tercatat sebesar 2244 orang. Selain kegiatan intra kurikuler, maka kegiatan ekstra kurikuler juga diperhatikan guna mendorong mahasiswa menjadi manusia seutuhnya yang memiliki keseimbangan antara kemampuan intelektual dengan kemampuan fisiknya, antara lahir dengan batin dan antara kemampuan daya pikirnya dengan kedalaman moralnya. Kegiatan mahasiswa tersebut dihimpun dalam berbagai Himpunan Mahasiswa dan unit kegiatan mahasiswa.

Banyak penemuan dan pengembangan teknologi yang telah dihasilkan oleh Fakultas Pertanian UNSOED melalui kegiatan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Penemuan varietas kedelai dan padi gogo unggul, teknologi bercocok tanam, pengendalian hama dan penyakit, pengolahan hasil dan pemasaran serta teknologi tepat guna lainnya telah digunakan secara luas oleh masyarakat dan merupakan sumbangsih Fakultas Pertanian dalam mendukung pembangunan pertanian di Indonesia. Disamping itu, lulusan Fakultas Pertanian UNSOED telah tersebar luas dan bekerja diberbagai bidang, antara lain pendidikan, PNS pada berbagai instansi, perbankan, industri, perdagangan dan wiraswasta.

Sejarah
Pendirian Fakultas Pertanian dirintis oleh Panitia Pendiri Fakultas Pertanian yang kemudian diteruskan oleh Yayasan Pembina Universitas Jenderal Soedirman dengan membuka Fakultas Pertanian Negeri sebagai cabang Universitas Diponegoro berdasarkan Surat Keputusan Menteri Perguruan Tinggi dan Ilmu Pengetahuan tanggal 20 September 1962. Kemudian berdasarkan Surat Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 195 tanggal 23 September 1963 dan Surat Keputusan Menteri PTIP Nomor 153 tanggal 25 Nopember 1963, didirikan Universitas Jenderal Soedirman (UNSOED) dan Fakultas Pertanian merupakan salah satu fakultas yang termasuk di dalamnya. Pada awal berdirinya, Fakultas Pertanian terdiri atas dua jurusan, yaitu jurusan Teknik Pertanian dan jurusan Sosial Ekonomi Pertanian. Fakultas Pertanian UNSOED selanjutnya semakin berkembang dan pada saat ini merupakan Fakultas terbesar dilihat dari jumlah program studinya.

Visi
Visi Fakultas Pertanian UNSOED adalah pada tahun 2003 Fakultas Pertanian UNSOED menjadi lembaga pendidikan tinggi unggulan di bidang pertanian lahan kering yang berwawasan lingkungan dan agribisnis serta menghasilkan lulusan yang bermoral Pancasila, berwawasan kebangsaan dan kemandirian yang memiliki kemamopuan ilmu pengetahuan dan teknologi tinggi.

Misi
Misi Fakultas Pertanian UNSOED adalah :

Melaksanakan pendidikan, penelitian dan pengabdian kepada masyrakat di bidang pertanian, utamanya pertanian lahan kering yang berwawasan lingkungan dan agribisnis.
Melaksanakan pembinaan kehidupan akademik yang sehat dan dinamis dalam mengembangkan dan mengamalkan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Memberikan kesempatan kepada masyarakat, utamanya masyarakat Banyumas dan sekitarnya untuk dapat mengikuti pendidikan tinggi pertanian guna mendapatkan ilmu pengetahuan dan teknologi serta profesionalisme yang dapat diterapkan dalam pembangunan pertanian dan pemecahan permasalahannya


Tujuan
Fakultas Pertanian UNSOED menjadi wahana untuk melaksanakan kegiatan pendidikan, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat di bidang pertanian, utamanya lahan kering. Tujuan penyelenggaraan pendidikan tinggi Fakultas Pertanian antara lain :

Menghasilkan lulusan yang bermoral, berwawasan kebangsaan dan kemandirian yang mampu bersaing dalam mengembangkan IPTEK secara global.
Menghasilkan lulusan yang mampu mengembangkan IPTEK yang relevan dengan kebutuhan Pembangunan Nasional.
Menghasilkan lulusan yang mampu menerapkan dan mengamalkan IPTEK secara tepat guna sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
Mennghasilkan lulusan yang memiliki kompetensi akademik, professional dan kemampuan kewirausahaan, khususnya di bidang pertanian.