Oleh : Sukamto, Alumnus Fak. Pertanian SKS 1985
Pernah ada yang bilang masa indah adalah saat SMA/SMU, setelah ribut-ribut soal UN yang menjadi pro kontra yang sangat melelahkan, ada yang bilang masa yang terindah saat SMP. Namun bukan cerita masa indah atau tidak, tapi yang pasti sering kita kadang merasa indah, atau rindu akan masa-masa yang telah lalu; setelah kita melewatinya. Sambil merasakan masa yang lalu, sedikit cerita dari antara Grendeng-Bogor-Jepang.
Kata orang tak kenal maka tak sayang. Nama saya singkat saja Sukamto, lahir di kampoeng nun jauh di pegunungan kecamatan Salem, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah. Lahir dari seorang Bapak Wiharna Cakradikrama dan Ibu Siti Nurchasanah. Setelah menamatkan di SMA Negeri 1 Brebes tahun 1985, lalu kuliah di jurusan Hama Penyakit Tumbuhan, Fakultas Pertanian UNSOED. Kuliah di Purwokerto, Grendeng hingga pindah ke Karangwangkal tentu saja telah membawa 1001 kenangan bahkan lebih kali. Lulus tahun 1990, dan terus bekerja di Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat sebagai peneliti, tepatnya di Jl. Tentara Pelajar No. 3 Bogor.
Menuju Tohoku UniversityPada awal kerja di Balittro, diinstansi ini sedang ada kerjasama penelitian dengan JICA. Awal tahun 1997 atas sponsor JICA, penulis mendapat kesempatan untuk training ke Jepang tepatnya Universitas Tohoku.
Beberapa hari sebelum pulang ketanah air, pembimbing yaitu Prof. Yosio EHARA memberikan acceptance letter yang kemudian di gunakan untuk mendaftar program MOMBUSHOU/MOMBUKAGAKUSHOU. Satu April 1999, penulis berangkat ke Jepang untuk melanjutkan sekolah di universitas Tohoku, tempat yang sama saat training tahun 1997.
Universitas Tohoku adalah satu di antara 7 universitas imperial lain di Jepang (Tokyo, Kyoto, Tohoku, Hokkaido, Nagoya, Osaka, Kyushu) dan termasuk segelintir universitas di Jepang yang sudah mencapai lebih dari 90 tahun umurnya sejak didirikan (1907).
Secara historis, Sendai atau kota yang berjuluk Mori no miyako (kota atau tempat nan hijau) adalah kota di mana sekitar 400 tahun lalu lebih, tepatnya pada 1601 M., Date Masamune mendirikan istananya. Pada tahun 1889 M., Sendai resmi menjadi kota setingkat kotamadia dan berangsur-angsur menjadi lokasi menarik bagi hampir semua kegiatan, dari jasa, pendidikan sampai militer.
Setelah PD II, sejalan dengan restorasi kota Sendai akibat kerusakan saat perang (yang sebagian besar wilayah kotanya hancur akibat perang) dan seiring dengan pemulihan ekonomi Jepang pada umumnya, Sendai pun berubah menjadi pusat pemerintahan dan bisnis khususnya untuk wilayah layanan Tohoku. Dan sejak tahun 1989 Sendai ditetapkan sebagai kota ke 11 bagi perencanaan khusus kota-kota kunci di Jepang. Meski pun begitu sampai saat ini Sendai masih menduduki kota peringkat 12 berdasar jumlah penduduk atau populasinya.
Ditinjau dari segi lokasi dan topografi, Sendai sebenarnya mempunyai keistimewaan di banding dengan kota-kota lain di daerah Tohoku. Pada musim panas, Sendai tak sepanas kota-kota tetangganya, begitu pula di musim dingin, Sendai pun tak sedingin daerah-daerah sekitarnya.
Belajar bahasa Jepang dan research studentSebagai penerima beasiswa monbusho G to G, 6 bulan pertama kami harus mengikuti program Bahasa Jepang intensif (full time) di bawah pengawasan International Student Center di Tohoku Univ.
Konon kabarnya kata rekan-rekan, pada setengah tahun pertama inilah tersedia waktu / kesempatan untuk menikmati kehidupan di Jepang; karena setelah masuk lab/program S2 atau S3 akan banyak dijejali tugas-tugas baik penelitian, kuliah, seminar dll.
Kebetulan penulis juga masih Bulog alias bujang lokal, karena itulah bila hari libur/Sabtu atau Minggu bersama rekan-rekan program bahasa; dari Nepal, Iran, Bulgaria, Meksiko, Jerman, Mongol, dan Rusia, sering menghabiskan waktu dengan jalan bareng-bareng untuk menikmati tempat-tempat di sekitar Tohoku atau sekedar bercerita-cerita tentang negara-negara masing-masing, dll. Memasuki 6 bulan berikutnya sebagai research student, mulai rutin masuk lab.: menyiapkan thema penelitian, persiapan ujian masuk program, penelitian pendahuluan dll.
Menikmati Kehidupan di Laboratorium.Memasuki tahun kedua dan seterusnya sebagai student, penulis mulai menikmati kehidupan dilab.; datang pagi pulang sore, malam atau bisa malam sekali atau juga bisa pagi. Dalam satu lab. terdiri dari mahasiswa S1 tahun terakhir, Master (M1 dan M2) dan S3.
Biasanya setiap student mendapatkan fasilitas meja belajar komplete dengan internet, dan meja kerja untuk penelitian serta fasilitas laboratory lain. Sehingga student tidak perlu kemana-mana untuk cari bahan paper, seminar atau ujian.Paling jauh mesti ke gedung lain, library yang bisa dibuka hampir 24 jam. Dengan adanya fasilitas tsb, maka student idealnya tinggal di univ. atau meja masing-masing untuk belajar dan melakukan seluruh aktivitas studynya. Pulang ke rumah hanya untuk tidur. Lain lainnya dihabiskan di univ.
Seperti suatu komunitas/ kelompok lain di Jepang, kehidupan dilab. punya aturan yang tidak tertulis dan selalu berjalan setiap tahunnya. Aturan tersebut biasanya disampaikan saat orientasi pertama masuk lab.Kegiatan yang berhubungan dengan study seperti jadwal seminar mingguan lab., meja tempat duduk atau tempat kerja ditentukan oleh assisten professor. Sedangkan yang berhubungan dengan kegiatan lain seperti kordinator berkebun, membersihkan ruangan, steril alat, nomikai/minum-minum/party dll., dirembug/ditentukan diantara student.
Namun setiap tahun selalu saja aturan/jadwal hampir sama, misal koordinator berkebun biasanya student master (S2) tahun pertama, dan nomikai (menyediakan makan dan minum kalau ada party) selalu saja anak S1. Berkebun di lab. hanyalah kegiatan tambahan yang biasanya dikerjakan bersama setelah pukul 15.00 pada setiap musim panas dengan memanfaatkan lahan di sekitar kampus/rumah kaca. Tanaman yang di tanaman bermacam-macam seperti padi, jagung, timun, kentang, bawang sayur dll.
Oh yach .. sejak penulis ada, tanaman yang ditanam bertambah yaitu cabai. Lumayan kebetulan nihonjin (orang jepang) gak suka pedas, dan cabai bisa disimpan dalam freezer; lumayan untuk setahun buat sambal ….. Hasil panen yang lain hanya untuk dikonsumsi sendiri atau sekedar di bagi ke lab. lain atau bagian lainnya (administrasi) di fakultas. Berkebun bersama semua anggota lab. lumayan menyenangkan; sambil refresing menghilangkan kejenuhan berjiken (research) dilab.
Cerita party/minum dan makan….wah pasti lebih banyak, laa piye orang jepang kan sukanya memang minum dan makan. Setiap ganti musim, tahun ajaran baru atau event apapun selalu saja disertai dengan acara makan dan minum bersama.
Setiap party tak cukup sekali /disatu tempat selalu saja ada lanjutannya pindah ke tempat/restoran lain. Penulis sebisa mungkin membatasi acara party khususnya yang di luar kampus; gak bisa menikmati selain boros juga tentu saja rugi hanya bayarin nihonjin……. ? Laa … gimana; yang lain pada minum bir, sake, wine dll… yang harganya lebih mahal dari pada orange juice, apple juice, teh atau coca cola, yang biasa penulis pesan/minum. Namun untuk menjaga keakraban/kekompakan di lab., penulis secara selektif ikut juga pada acara-acara party walau di luar kampus.
Gambar Bekerja keras, lalu maka dan minum sambil ngobrol; begitulah kebiasaan orang Jepang.
Kegiatan lainnya di lab. tentu masih ada lagi seperti olah raga, imonikai, bowling, main sky bareng dll. Cerita main sky tentu pengalaman yang paling mengesankan karena memang baru kali itu main perosot-perosotan di atas salju yang memadat.
Setengah hari dihari pertama main sky …. wah banyak jatuhnya daripada berdirinya… ?. Begitu seriusnya temen-temen se-lab. melatih… malu juga kalau gak berlatih bersungguh sungguh. Dan…baru hari kedua, bisa berjalan dan berbelok dalam kecepatan yang rendah.
Begitulah kurang lebih kegiatan student setiap tahunnya selain tugas utama research dan belajar.
Seken: hidup berkelompok ala JepangResearch dan semua kehidupan di lab. dilakukan secara bersama-sama saling bantu membantu yang secara sadar atau tidak ternyata telah menimbulkan kesetiaan/kuatnya keterikatan pada kelompoknya.
Pada akhirnya walau suatu kegiatan dirasakan kurang berkenan secara individu bagi seseorang misal terasa mahal dll, namun tetap saja untuk menjaga kekompakan komunitas/ kelompok tersebut akhirnya ikut juga.
Kesetiaan kelompok tidak terbatas di sebuah laboratorium atau kantor saja. Bisa saja dalam kelompok klub olahraga, klub kesenian, kelompok ketetanggaan, kelompok kelas di sekolah dll.
Orang yang masuk dalam sebuah kelompok, atau memang tergabung dalam sebuah kelompok seperti kelompok ketetanggaan, merasa adalah kewajibannya untuk bertindak seirama dengan kemauan kelompok dan tidak bertindak menonjolkan diri atau lain sendiri karena hal itu akan mengundang rasa kurang senang kelompoknya.
Prestasi seorang individu dalam kelompok bukan lagi prestasi pribadi yang bersangkutan tapi menjadi prestasi kelompoknya. Masyarakat Jepang kurang dapat menerima sifat individualisme, apalagi yang mencolok seperti dalam masyarakat Barat. Masyarakat Jepang selalu menjaga keharmonisan dengan kelompok, lingkungan, dan alam.
Dalam suatu kuliah umum Prof. Kimura Toshiaki (Faculty of Arts andLetters, Universitas Tohoku) yang beristrikan orang Indonesia, bercerita tentang Seken/Syakai yang diartikan sebuah kelompok/masyarakat (Society). Walau Seken dan Syakai (Society) dua-duanya diartikan masyarakat/kelompok, tetapi philosophy yang mendasarkannya sangat berbeda. Di dalam philosophy Eropa “society (Syakai) itu di ciptakan oleh individu yg mandiri supaya lebih aman dan makmur kehidupannya.
Tetapi, konsep orang Jepang mengenai masyarakat, “Seken” berbeda dengan konsep Eropa ini. Karena kadang-kadang orang Jepang lebih mengutamakan manfaat masyarakat daripada manfaat diri sendiri. Kesannya masyarakat itu tuan kepada pribadi.
“Seken” punya beberapa hukum yang tidak tertulis dan anggotanya harus ikut peraturan itu. Di dalam itu yang paling penting ada dua prinsip; perbedaan tua-muda dan sistim reciprocity (sistem tolong menolong, atau bagi rata). Mengenai Perbedaan tua-muda, mungkin rekan yang pernah mengalami di Jepang apalagi di Kenkyushitsu/lab.
Orang Jepang harus sopan sama orang yang umurnya lebih atas dari dia. Walaupun bedanya sedikit harus panggil “Senpai” atau sekurang-kurangnya harus pakai “san”, dan bahasa juga biasanya kata-kata bentuk sopan (keigo).
Sebaliknya, seorang senpai (senior) biasanya akan terlihat lebih menyayomi, momong dan selalu melindungi kohai-nya (junior) dalam satu kelompok. Biasanya orang Jepang mulai belajar prinsip ini waktu SMP bukan dari Guru, tetapi dari murid tingkat atas.
Sistem “bagi rata” juga masih sering bisa lihat didalam masyarakat Jepang. Anggota groupnya harus saling bantu dan tidak boleh berhasil sendiri. Misalnya salah satu anggota tiba-tiba perlu bantuan mengenai uang atau tenaga kerja, yang lain harus bantu dia. Atau sebaliknya, ketika salah satu anggota tiba-tiba dapat rejeki, maka harus dibagi sama anggota lain.
Menarik untuk dikaji, barangkali saja dasar pikiran dan sifat bangsa Jepang ada dalam philosophy “Seken“ juga yang menjadi landasan dalam hidup bernegara yang terlihat lebih baik dari RI ini.
Kawan main tennis lapang penulis (Pak Ade) yang tempo doeloe pernah tinggal di jepang, berkelakar; di Jepang sulit cari orang miskin tapi sulit juga cari orang kaya, sebaliknya di negeri tercinta, Indonesia, banyak orang kaya tapi banyak pula yang miskin. Atau makin bertambah yach setelah kenaikan BBM….?
On ScheduleBila kita masuk lab. atau ganti tahun ajaran baru biasanya bulan April, setiap student sudah disodorin jadwal seminar, presentase kemajuan penelitian, etc. setahun penuh. Semua dijalani dengan konsekwen dan disiplin.
So, kalau melihat secara sekilas, menikmati lab. baik itu yang berhubungan dengan study atau kegiatan lainnya, seperti gak ada yg berubah dari kehidupan orang jepang dari waktu ke waktu. Semua sudah on schedule, ya kalau gak gitu susah juga… bayangkan kalau misal ada seminar atau rapat mendadak…wah bisa jadi menggangu penelitian karena setiap student biasanya memang sudah menjadwalkan rapi-rapi dari setiap jam ke jam.
Keteraturan menyangkut juga masalah kehidupan sosial budaya japanese.
Suzuki-san, karyawan di lab. setiap istirahat siang dia ganti pakaian dengan sport suite, lalu main badminton biasanya dilakukan setiap jam istirahat. Dan bila jam istirahat selesai, dengan segera ia akan berganti formal suite lagi, bertugas seperti biasa.
Hal yang sama juga di terlihat luar kampus, jadwal festival atau matsuri bisa diketahui 1-2 tahun ke depan. Kalau mau ikutan, mesti daftar jauh hari sebelumnya. Kalau gak, ya pasti ditolak…..mereka gak mau ada hal yg tiba-tiba, bikin panik dan mengacaukan jadwal.
Cerita transportasi apalagi pasti dech on schedule, kadang penulis pikir mereka termasuk bangsa robot, malah ada yang bilang japanese kaku gak inovatif; semua monoton dan teratur. Tapi dipikir lagi, mereka dengan cara seperti itu adalah bangsa yg teratur.
Lihat saja hasilnya, semua berjalan dengan baik dan tidak asal-asalan. Dan mereka secara individu juga tidak pernah berani melanggar aturan yg ada. So, kehidupan mereka meski monoton tapi tertib dan baik.
Dirantau Bersama Alumni GrendengCerita alumni UNSOED mungkin gak segemerlap alumni UI, ITB, UGM atau yang lain. Namun tentu bukan tak mungkin akan menjadi sejajar dengan alumni lainnya, hanya belum terhimpun dengan baik semua potensi yang ada dialumni UNSOED. Artinya kita semua perlu berbenah, barangkali.
Terus terang saja, saya belum banyak ikut serta dalam berbagai kegiatan alumni Unsoed baik yang diadakan pusat di Purwokerto atau cabangnya di daerah-daerah (Jakarta, Semarang, batam, lampung dll). Barangkali hanya sekali ikut berkumpul ria saat awal 90-an yaitu alumni cabang Jakarta yang diadakan di kebun binatang ragunan, selebihnya jadi pendengar.
Tahun 1999, awal hidup di Jepang bertemu dengan salah satu dosen Peternakan Undip (Dr. Bambang Sulistyo), ngomong ngalor ngidul akhirnya dikenalkan lewat e-mail dengan Mas Okky yang saat itu sedang pendidikan S3 di Jepang. Mungkin saja memang sama-sama kangen sama alumninya….beberapa jam Mas Okky kirim e-mail dan terus bergabung dalam satu mailing list alumni.
Kenal-kenalan barang itu…..awal berkomunitas alumni dalam mailing list yang di asuh Mas Okky. Yang pasti paling banyak posting sich Mas Abe…yang saat itu sedang merumput rumput laut di Jerman. Tak lama setelah itu….sebenar juga telah ada mailing list alumni yang di asuh Kang Lukman, dan atas kebesaran hati Mas Okky akhirnya mailing list digabung.
Banyak cerita setelah lebih dari 7 tahun berkomunitas dimailing list unsoed….dari yang senior junior, pokoknya banyak belajar dech.
Buat Web Alumni……sempat juga tercetus dari sana dan terlaksana….terus mandeg dan akhirnya adalagi. Sampai saat ini saya rajin juga nongkrong dan kadang posting dimailing list…mohon maaf yach kalau saja kurang berkenan atau mengganggu dll.
Bersama Masyarakat Indonesia di SendaiMasyarakat Indonesia di Sendai cukup banyak juga, ± 70 orang pada tahun 2004 yang terdiri dari para pelajar, rekan-rekan yang kerja diperusahaan, dan yang bersuamikan atau beristrikan orang jepang.
Kegiatan lebih banyak ke sosial; bersilaturahmi, rekreasi, makan-makan, mengikuti/ mengadakan festival atau memperkenalkan budaya Indonesia baik di masyarakat umum atau sekolah-sekolah. Kegiatan-kegiatan masyarakat Indonesia di Sendai tertampung didua organisasi; Persatuan Pelajar Indonesia Sendai (PPIS) dan Keluarga Muslim Indonesia Sendai (KMIS).
Bencana Tsunami yang meluluh lantahan serambi mekah (Aceh) saat itu menjadi berita utama dan perhatian khusus orang-orang jepang. Apalagi gempa bumi merupakan peristiwa yang sering terjadi di Jepang. Perhatian dan bantuan dana orang-orang jepang telah menjadi pemicu semangat masyarakat Indonesia di Sendai dalam menggadakan penggalangan dana di tengah derasnya salju. Berbagai organisasi sosial, universitas, sekolah-sekolah di jepang banyak yang membantu dalam kegiatan penggalangan dana.
Menggalang dana untuk korban bencana Tsunami
Cerita kegiatan KMIS akan terasa lebih semarak saat bulan Ramadhan. Dihari-hari biasa bulan Rahamadhan di Jepang tentu saja tak seramai di tanah air, dimana semua chanel TV banyak yang menyiarkan acara tentang Ramadhan, kalau sorepun banyak yang ngabuburit, jalan-jalan sambil nunggu bedug magrib.
Namun puasa di Jepang menyenangkan juga, karena puasa kebetulan jatuh saat musim dingin dimana panjang siangnya lebih pendek daripada malam….jadi cepet bukanya…..?.
Dihari-hari libur suasana Ramadhan di Sendaipun sangat terasa, setiap hari Sabtu ada buka bersama masyarakat Indonesia. Lalu hari minggu dan libur lainnya, ada buka bersama muslim seluruh negara yang ada di Sendai.
Dan jenis makanan yang di sajikanpun akan bergantian dari setiap negara. Selain Ramadhan, yang ditunggu-tunggu juga adalah Lebaran tentunya. Sayang sekali, lebaran yang jatuh pada saat hari libur hanya satu kali selama enam kali berlebaran di sana, dulu itu waktu tahun 2001 saja. Selebihnya, setelah shalat Ied langsung ngelab (pergi ke lab.).
Demikian sedikit cuplikan-cuplikan cerita yang dapat penulis sampaikan, mudah-mudahan lain kali dapat bersambung, dan kurang lebihnya mohon maaf. Terima kasih buat istri Rr. Nurul Irfani Annette, anakku Khairunisa Nur Aikoningtyas, keluarga dan rekan-rekan yang telah banyak membantu dan do`a untuk penulis dalam menimba ilmu di Jepang; kore kara-mo yoroshiku. (Sukamto, SKS 1985 UNSOED, sukamtowrn@yahoo.com). Dimuat dalam http://blog.alumni-unsoed.net/



Tidak ada komentar:
Posting Komentar